yappika.or.id

Halaman Awal arrow Donasi
Donasi Cetak E-mail

Ayo Bantu 5,3 juta Ibu Indonesia Belajar Membaca

Donasi Gerakan Penguatan Perempuan agar Mereka Berdaya

 

Mampu membaca dan menulis adalah gerbang ilmu dan keberdayaan. Namun, di era milenium ini, ada sebagian rakyat Indonesia khususnya perempuan miskin tidak bisa baca tulis. Data Diknas akhir tahun 2009, terdapat 8,3 juta penduduk usia 15 tahun ke atas masih buta aksara, dimana 64% atau sekitar 5,3 juta di antaranya adalah perempuan. Sementara itu di wilayah DKI Jakarta, terdapat 72.553 orang buta aksara.

Dukungan layak diberikan kepada para ibu dan calon ibu yang tidak bisa baca tulis ini agar mereka lebih berdaya. YAPPIKA saat ini menggalang dukungan donasi publik untuk melatih dan mendampingi para ibu belajar membaca. Donasi dapat disalurkan ke rekening Bank Mandiri 006.00.0036529.0. a.n. YAPPIKA atau BCA KCU Wisma Milenia No. Rekening 005.300.3211 a.n. YAPPIKA

Informasi lebih lanjut: Elita atau Surachman Ponco (YAPPIKA: 021 – 819 1623, Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya )

 

Digunakan untuk Apakah Dana yang Terkumpul?

Dana yang terhimpun dari publik akan digunakan untuk melatih dan mendampingi para ibu belajar membaca dan menulis. Pada awal tahun 2010, rencananya akan dimulai dengan 10 kelompok belajar yang akan dilakukan di komunitas miskin di Jakarta Utara. Dan pada pertengahan tahun 2010 diharapkan kelompok belajar akan berkembang menjadi 60 kelompok. Jika dukungan semakin besar maka kelompok belajar pun akan semakin banyak dan tersebar tidak hanya di Jakarta. 

Para peserta warga belajar semuanya adalah perempuan. Mereka akan dibimbing oleh relawan YAPPIKA yang mempunyai keahlian mengajar keaksaraan fungsional. Para relawan ini juga akan merekrut warga di sekitar kelompok belajar untuk dilatih menjadi tutor dengan pendampingan intensif dari relawan. Dengan cara ini diharapkan keahlian pengajaran keaksaraan juga dimiliki oleh warga sehingga mereka dapat memperluas dan melanjutkan pemberantasan buta aksara dan tidak selalu bergantung kepada relawan YAPPIKA.

Masalah buta aksara tidak bisa diselesaikan dengan hanya mengajarkan baca, tulis, dan hitung semata, tetapi pengajarannya harus bersifat fungsional yang ilmunya langsung dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam program keaksaraan ini, YAPPIKA akan menggunakan muatan isu pemenuhan hak dasar warga yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang fungsi dan pentingnya kepemilikan data kependudukan; fungsi dan penggunaan kartu keluarga miskin (GAKIN) untuk klaim pelayanan kesehatan gratis berikut prosedur klaim dan pengurusannya; fungsi dan penggunaan KTP, kartu keluarga dan akte kelahiran.

Mari bertindak! Dengan memberikan donasi, Bapak - Ibu telah mendukung upaya kolektif memberantas buta aksara yang dialami oleh jutaan ibu di Indonesia.

 

Sepenggal Kisah (1) 

Ibu Tikah (45 tahun) tergopoh-gopoh datang ke YAPPIKA dengan membawa map lusuh. Di dalam map itu berisi kartu keluarga miskin (GAKIN), kartu keluarga (KK), foto copy KTP dan surat keterangan dari kelurahan yang menyatakan ia dari keluarga miskin. Dengan agak malu, ibu Tikah mengatakan kalau ia tidak bisa baca tulis dan meminta relawan YAPPIKA untuk menemaninya ke RS Budi Asih untuk memeriksakan anak balitanya yang sedang sakit. Ia ceritakan sudah dua kali ke RS itu untuk berobat. Namun ia bingung dan takut karena selalu salah masuk ruangan karena tidak bisa membaca petunjuk. Ia juga kesulitan mengurus administrasi pembebasan biaya pengobatan yang mengharuskannya membaca dan menulis data diri. Mengeja namanya sendiri pun ia tidak tahu. Pada kunjungan ke dua di RS, ia memilih pulang karena putus asa dan bingung mengurus administrasi.

Pada saat menunggu di RS bersama relawan, ibu Tikah sempat bergumam sambil menerawang, “seandainya saya pinter dan bisa baca, pasti bisa urus semuanya sendiri. Anak-anak saya nggak boleh kayak saya, mereka harus pintar.” Banyak cerita serupa juga terjadi di daerah Koja, Cilincing dan Marunda Jakarta Utara yang membuat trenyuh hati para relawan YAPPIKA. 
 
Sepenggal Kisah (2)

Pada Sabtu yang cerah, rombongan ibu-ibu di kelurahan Koja berpartisipasi pada penyuluhan dan pemeriksaan kanker payudara yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta dan YAPPIKA. Kegiatan ini merupakan titik masuk untuk menyebarluaskan informasi tentang hakpelayanan publik di bidang kesehatan. Semua peserta penyuluhan diwajibkan untuk mengisi daftar hadir. Ada seorang Ibu yang tiba-tiba meminta tolong Relawan Yappika untuk menuliskan namanya.

”Mbak, tolong tuliskan nama saya” pinta si Ibu”. Boleh Ibu, namanya siapa?” ujar relawan YAPPIKA ” Sarminah”. Jawab Si ibu it.

Lalu ada beberapa Ibu yang lain meminta namanya dituliskan juga dan bahkan sampai ada yang menunjukkan KTPnya. Pada proses interview, ada kewajiban peserta untuk mengisi kesediaan untuk menjalani pemeriksaan mengguanakan alat mammografi. Namun ada beberapa ibu tidak mau mengisi format informasi sebelum pemeriksaan dilakukan.  Beberapa ibu juga mengeluhkan isi penyuluhan yang  menggunakan tulisan yang dikemas di power point dan ditayangkan dengan proyektor. Mereka mengatakan tidak dengan jelas memahami apa yang disampaikan oleh dokter.

”Mba, saya tidak mengerti dengan penjelasan dokter yang ada dikomputer” ungkap Ibu ini. ”Memangnya kenapa ibu?” Tanya relawan YAPPIKA. ”Saya tidak bisa membaca yang ada dilayar komputer itu, jadi yah saya tidak tahu informasi yang ada disitu”.

Ternyata setelah dicari penyebab, ibu-ibu tidak dapat menulis namanya sendiri dan tidak mau mengisi form mamografi tersebut karena mereka buta aksara.
 

Kategori

Cari

Anda dapat berpartisipasi bersama kami. Kirimkan artikel Anda ke:
yappika@indosat.net.id

STATISTIK

Pencatatan data sejak: 2008-09-04
Kunjungan hari ini: 18
Kunjungan bulan ini: 437
Total kunjungan: 79027

Site Language

Agenda Kegiatan

No events