Download
Buletin Aliansi Demokrasi dan Pemilu di Aceh.
Pemilu legislatif telah usai. Di Bumi Serambi Mekah, pemilu 2009 ini sangatlah bermakna, karena selain memilih 38 caleg dari partai nasional, juga dapat memilih calon legislatif (caleg) yang diusung oleh enam partai politik lokal (parlok) yang tidak ada di provinsi lain. Pemilu kali ini juga menjadi ajang peralihan Aceh baru pasca konflik.
Pemilu di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dikabarkan berjalan dengan lancar dan nyaris tidak ditemukan masalah dalam proses pemungutan hingga perhitungan suara. Namun dari hasil pantauan Forum LSM Aceh, kasus-kasus kekerasan pemilu sebenarnya masih mewarnai pelaksanaan pemilu legislatif kemarin. Maka tema Aliansi mengungkap kasus kekerasan dan gesekan kepentingan dalam pemilu kemarin. Beberapa tulisan terkait dengan pelaksanaan pemilu di Aceh akan mewarnai edisi kali ini diantaranya Kekerasan dalam Pemilu di Aceh laporan Election Violence Education and Resolution (EVER) juga wawancara dengan Saiful Hadi dari Forum LSM Aceh yang selama ini memantau kasus kekerasan selama pelaksanaan pemilu legislatif kemarin.
Peluang Pemilu untuk Aceh Baru.
Perjanjian Helsinki pada tahun 2005 telah membawa Aceh pada perdamaian, kontak senjata telah berhasil dihentikan. Suara letusan senjata telah berganti dengan suara-suara masyarakat sipil dalam memperjuangkan hak-hak rakyat untuk kehidupan yang lebih baik. Strategi perlawanan bersenjatapun telah berganti menjadi strategi perjuangan politik melalui pemilu. Pemilu telah membuka ruang bagi rakyat Aceh untuk berjuang secara terbuka melalui partai lokal dan calon-calon independent. Sekarang ruang demokrasi di Aceh lebih terbuka. Hal ini menjadi modal utama bagi masyarakat Aceh dan para elit politik Aceh untuk membuat terobosan baru dalam membangun Aceh yang lebih sejahtera.
Pada edisi kali ini Aliansi melihat tantangan terbesar bagi Aceh sekarang yaitu memastikan perdamaian dapat terus berjalan ketika pemilu berlangsung. Karena pemilu akan menjadi titik masuk perubahan yang mendasar bagi rakyat Aceh. Bagaimana masyarakat Aceh menjadi perdamaian menjelang pemilu ini menjadi fokus utama Aliansi edisi ini. Beberapa tulisan terkait dengan tema tersebut diantaranya Menjaga Seulawah Untuk Republik dan Kalkulasi Partai Lokal dan Demokratisasi di Aceh. Pada edisi ini Aliansi melakukan wawancara dengan Sudarman aktivis Aceh yang bergabung dalam Koalisi Pemilu Damai (KPD) di Aceh.
Mimpi Tentang Aceh Baru.
Kini Aceh telah memasuki tahap damai. Tsunami telah menjadi pintu pembuka bagi Aceh untuk dunia internasional. Solidaritas dari berbagai penjuru dunia pun datang ke Aceh. Hingga Aceh tak pernah luput dari perhatian internasional. Tiga tahun usia damai di Aceh membuat kondisi sosial politik di bumi serambi mekah ini relatif kondusif.
Suasana damai menimbulkan eforia tersendiri bagi masyarakat Aceh. Tidak sekedar eforia pembangunan infrastruktur seperti perumahan, sekolah, rumah sakit, jalan, dll. yang telah rusak karena tsunami, tapi juga membangun kran-kran politik baru yang telah tersumbat lebih dari 30 tahun akibat konflik. Kini rakyat Aceh dengan gempita dapat menyelenggarakan seminar, diskusi atau kursus politik dan juga mendirikan organisasi baru. Tidak hanya itu, saat ini bahkan telah muncul partai-partai lokal di Aceh.
Tema Aliansi kali ini ingin merespon situasi damai ini telah menyulutkan tekad masyarakat untuk terus menjadikan perdamaian sebagai salah satu sarana guna mewujudkan Aceh yang dicita-citakan. Maka tulisan terkait harapan perdamaian di Aceh menjadi warna dalam Aliansi kali ini diantara tulisan yang mengankat hal tersebut adalah Aceh Baru, Impian yang Belum Berbuah Kenyataan dan Adakah Peran NGO Dalam Menjaga Perdamaian. Pada edisi kali ini Aliansi berkesempatan melakukan wawancara dengan Tengku Kamaruzzaman, wakil ketua Konsorsium Aceh Baru (KAB).Aktivis Aceh Masuk Partai. Ini memang bukan tema baru, karena aktivis masuk partai atau membuat partai sendiri memang bukan hal yang baru lagi. Namun polemik tentang apakah ini terkait dengan taktik gerakan (untuk mempercepat proses perubahan yang berpihak pada rakyat) atau oportunistik (karena ini lahan basah yang mengiurkan, di mana ada kekuasaan dan popularitas) selalu menjadi berdebatan yang tidak kunjung usai. Di Aceh lebih menarik lagi karena ini terkait dengan memanfaatkan momentum politik dimana ada ruang (dengan partai lokal) bagi aktivis untuk mewarnai demokrasi di Aceh.
Edisi kali ini Aliansi ingin mengungkap apa sebab banyak aktivis Aceh ikut dalam bertarung dalam pemilu. Karena seringkali banyak yang menganggap bahwa praktek politik di Indonesia bukanlah 'lahan subur' untuk memperjuangkan idealistis dan perjuangan. Oleh sebab itu, ketika masuk dan menjadi bagian dari sistem, para mantan aktivis tersebut dikhawatirkan akan 'mabuk' dan terlena dengan kekuasaan. Pada edisi kali ini beberapa tulisan terkait dengan masuknya aktivis Aceh di pemilu diangkat oleh tim redaksi Aliansi diantaranya Aktor Civil Society Dan Pemilu 2009 dan Dari Aktivis Menuju Kursi Parlemen. Pada edisi ini, Aliansi juga melakukan wawancar dengan Afrizal Tjoetra Direktur Aceh Development Fund (ADF), yang lama berkecimpung dalam program Pemantauan Pemilu di Indonesia.
Tiga Tahun MOU Helsinki. Aceh Damai?
Perdamaian di bumi Aceh yang sudah diperjuangkan oleh segenap komponen bangsa telah berhasil diraih. Tiga tahun sudah MoU Helsinki diteken oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Mereka. Tiga tahun sudah rakyat Bumi Serambi Mekah ini menikmati buah dari perdamaian. Tidak hanya suasana hidup yang lebih aman, tapi juga pimpinan baru yang dipilih rakyat Acehpun telah lahir. Harapan untuk Aceh lebih aman sejahtera menjadi eforia rakyat aceh saat ini. Tiga tahun nampaknya waktu yang terlalu singkat untuk melihat perkembangan Aceh sekarang. Karena masih banyak ditemui penjarahan liar, penculikan, teror, yang dulu kerap menghantui rakyat Aceh.
Pada edisi kali ini Aliansi ingin melihat perkembangan 3 thaun MOU Helsinki. Karena pada realitasnya masih ditemui konflik- konflik kecil di Aceh. Dan ini mengerikan jika dibiarkan karena bisa jadi proses perdamaian yang telah diusakan bertahun-tahun lamanya bisa saja tercederai oleh "orang-orang" yang merasa tidak mendapatkan keadilan dalam era damai ini. Maka pada edisi ini menyajikan tulisan seputar Tiga Tahun MoU Helsinki diantaranya Hana Pirang di Serambi Mekkah dan Perdamaian Aceh dalam Bingkai MOU di Helsinky. Pada edisi kali ini Aliansi mewawancarai Otto Syamsuddin Ishak aktivis HAM Aceh yang sekarang beraktivitas di Imparsial.
| Pencatatan data sejak: | 2008-09-04 |
| Kunjungan hari ini: | 18 |
| Kunjungan bulan ini: | 437 |
| Total kunjungan: | 79027 |