Diterbitkan pada | Jumat, 30 September 2022

Pendidikan di pelosok Sumba Barat sering kali diuji oleh
sunyinya perhatian birokrasi. Di Desa Palamoko, Kecamatan Lamboya, berdiri
sebuah gedung sekolah tua yang dibangun sejak tahun 1957. Di sana, bagi 104
siswa dan 7 orang guru, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) saban hari dijalani
bukan hanya dengan buku dan kapur tulis, melainkan juga dengan rasa cemas yang
menggantung di atas kepala. Sebagian besar ruang kelas mereka telah mengalami
rusak sedang hingga rusak berat.
Plafon-plafon yang rapuh bergelantungan, mengintai
keselamatan anak-anak yang mulai kembali belajar tatap muka secara penuh.
Ironisnya, potret kerentanan fisik ini telah berjalan konstan selama sepuluh
tahun lamanya, mengendap dalam pembiaran tanpa sepeser pun dana rehabilitasi
dari otoritas pemerintah setempat. Menolak pasrah pada keadaan, warga sekolah
membuktikan bahwa kepedulian bisa digalang dari simpul gotong royong publik
esensial.
Menerjemahkan kedaruratan di tingkat tapak menjadi aksi
nyata, YAPPIKA-ActionAid merajut kemitraan strategis dengan Yayasan BAHTERA
Sumba dan Komunitas Sekolah untuk meluncurkan rintisan infrastruktur inklusif melalui Program Sekolah Aman.
Penyerahan bantuan dana rehabilitasi secara simbolis dilakukan langsung oleh
Rokhmad Munawir selaku Koordinator Program GRIPS YAPPIKA-ActionAid kepada
Mariana Lara, Wakil Kepala Sekolah SDN Palamoko.
Alokasi dana bantuan dan dukungan sarana belajar esensial
ini ditargetkan untuk menyasar beberapa indikator capaian berikut:

Sementara
itu, Rokhmad Munawir dalam sambutannya mengajak semua warga sekolah untuk
bersama-sama melakukan pembangunan ini dengan baik. “Ini adalah dana publik,
titipan dari para donator yang mempercayakan kepada YAPPIKA-ActionAid untuk
disampaikan kepada bapak ibu semua agar bisa dimanfaatkan dengan baik, jadi
mari kita upayakan yang terbaik”, demikian tegasnya.
Dalam acara
sederhana ini juga dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Desa Palamoko, Kaur
Pemberdayaan, Daud Ng Dawa. “Saya juga anggota komunitas di sini, saya sangat
berterima kasih sekolah ini diberikan bantuan”, ucapnya singkat saat menerima
tim YAPPIKA-ActionAid dan Yayasan BAHTERA di SDN Palamoko.
Pelaksanaan rehab ruang kelas ini akan dimulai segera dan
diperkirakan bulan Desember sudah selesai, demikian disampaikan oleh Martha
Rambu Bangi, Direktris Yayasan Bahtera.
Bahwa anak-anak di Lamboya harus bertaruh keselamatan selama
sepuluh tahun demi bisa mengeja huruf di papan tulis adalah sebuah tamparan
yang getir bagi rasa kemanusiaan kita. Pendidikan tidak sepatutnya berjalan di
atas ruang perjudian nasib. Hadirnya bantuan meja, kursi, dan perbaikan dua
ruang kelas di SDN Palamoko adalah sebentuk nyala lilin kecil yang membuktikan
bahwa solidaritas masyarakat bisa memotong kebuntuan birokrasi. Namun, lentera
ini tidak boleh berhenti bersinar hanya di satu sekolah saja.
Di luar pagar Desa Palamoko, masih ada jutaan anak Indonesia yang menatap langit-langit kelas mereka dengan cemas setiap kali hujan deras turun. Memastikan agar mimpi mereka tidak terkubur di bawah runtuhan puing bangunan prasarana membutuhkan napas pendampingan yang panjang. Mari ambil bagian menjadi benteng pelindung masa depan mereka. Salurkan kepedulian Anda dengan memberikan donasi untuk menjaga keberlanjutan Program Sekolah Aman.